Sabtu, 24 November 2012

PEMIKIRAN TOKOH PEMBELAJARAN BERWAWASAN MASYARAKAT




Pendidikan adalah kegiatan seseorang/sekelompok orang /lembaga dalam membantu individu/sekelompok orang untuk mencapai tujuan pendidikan. Tugas pendidikan tidak hanya menuangkan sejumlah informasi ke dalam diri siswa tetapi  bagaimana mengembangkan pemikiran siswa tentang konsep-konsep penting yang telah dipelajari agar dapat bermanfaat terutama bagi dirinya dan dapat mengembangkan karakter siswa. Namun proses pendidikan yang telah berjalan mengundang berbagai kriktik yaitu pandangan terhadap sekolah sebagai alat transformasi pendidikan yang salah satunya diungkapkan oleh Freire. Beliau mengatakan bahwa sekolah selama ini menjadi ”penjinakan” yang memanipulasi peserta didik agar mkereka dapat diperalat untuk melayani kepentingan kelompok yang berkuasa. Dengan adanya kritik tersebut, keberadaan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang dangat berpengaruh terhadap perkembangan suatau bangsa harus benar-benar menunjukan dan membuktikan bahwa belajar bukan hany proses transformasi dari guru ke siswa, tetapi juga upaya pengembangan potensi siswa berdasarkan atas kebutuhan dan kemampuan yang dimiliki oleh siswa.
            Sekitar abad 20 terjadi perubahan besar mengenai konsepsi pendidikan dan pengajaran. Hal itu tentunya berpengaruh tentang proses pendidikan dimana cara belajar dan mengajar di sekolah disesuaikan pandangan baru mengenai konsepsi pendidikan dan pengajaran. Murid pada awalnya hanya mengalami proses belajar satu arah yaitu hanya menerima transfer ilmu dari guru dengan cara pasif atau seperti hanya mendengarkan ”ceramah” dan menerima apa saja yang disuguhkan oleh guru tentu saja hal tersebut akan membatasi perkembangan daya pikir murid dimana seharusnya guru memberikan banyak kesemapatan pada murid untuk berfikir dan mengembangkan fikirannya tersebut. Salah satu hal yang harus dilakukan guru adalah melakukan reformasi di dalam cara mengajar kepada peserta didik. Untuk melakukan reformasi tersebut berikut ini merupakan beberapa teori belajar dari berbagai pemikiran yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pembelajaran di sekolah:
                         I.                  TEORI BELAJAR HUMANISTIK
Pelopor dari teori ini adalah Jurgen Habermas. Menurut teori ini proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memenusiakan manusia. Humanisasi atau memanusiakan manusia yaitu suatu upaya membantu manusia untuk dapat bereksistensi sesuai dengan martabatnya sebagai manusia (mampu merealisasikan hakikatnya secara total, oleh karenanya pendidikan merupakan upaya yang bertitik tolak pada hakiakat manusia). Teori humanistic sangat mementingkan isi yang dipelajari daripada proses belajar itu sendiri. Dalam pelaksanaannya tampak pada pendekatan belajar yang dikemukakan Ausbel tentang belajar bermakna atau meaningful learning, mengatakan bahwa belajar merupakan asimilasi bermakna. Materi yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.
Teori humanistic berpendapat bahwa teori belajar apapun dapat dimanfaatkan asal tujuannya memanusiakan manusia; mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri orang yang belajar secara optimal. Teori humanistic dengan pandangannya yang sangat manusiawi, yaitu dengan cara memanfaatkan atau merangkumkan berbagai teori belajar dengan tujuan untuk memanusiakan manusia bukan saja mungkin untuk dilakukan, tetapi justru harus dilakukan. Berikut beberapa pandangan para tokoh humanistic:
1.                  Pandangan Kolb Terhadap Belajar
Kolb membagi empat tahap-tahap belajar. Tahap Pengalaman Konkret, yaitu tahap awal dalam peristiwa belajar adalah seseorang mampu mengalami suatu peristiwa atau suatu kejadian sebagaimana adanya. Ia dapat melihat dan merasakannya, dapat menceritakan peristiwa tersebut sesuai dengan apa yang dialaminya. Namun, dia belum memiliki kesadaran tentang hakikat dari peristiwa tersebut.
Tahap pengamatan Aktif dan Reflektif, yaitu tahap kedua dalam peristiwa belajar bahwa seseorang makin lama akan semakin mampu melakukan observasi secara aktif terhadap peristiwa yang dialaminya. Ia melakukan refleksi terhadap peristiwa yang dialaminya dengan mengmbangkan pertanyaan-pertanyaan bagaimana dan mengapa hal itu bias/mesti terjadi. Pemahamannya terhadap peristiwa yang dialaminya semakin berkembang.
Tahap Konseptualisasi. Sesorang sudah mulai berupaya untuk membuat abstraksi, mengembangkan suatu teori, konsep, atau hokum dan prosedur tentang sesuatu yang menjadi objek perhatiaanya. Berfikir induktif banyak dilakukan untuk merumuskan suatu aturan umum atau generalisasi dari berbagai contoh peristiwa yang dialaminya.
Tahap Eksperimen Aktif, melakukan eksperimentasi secara aktif. Pada tahap ini seseorang sudah mampu mengaplikasikan konsep-konsep, teori-teori atau aturan-aturan ke dalam situasi nyata. Berfikir deduktif banyak dilakukan untuk mempraktekkan dan menguji teori-teori serta konsep di lapangan.
2.                  Pandangan Honey dan Mumford Terhadap Belajar
Honey dan Mumford yang pandangannya diilhami oleh pandangan Kolb menggolongkan orang yang belajar ke dalam empat macam atau golongan: Kelompok Aktivis, mereka yang senang melibatkan diri dan berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan dengan tujuan untuk memperoleh pengalaman-pengalaman baru. Mudah diajak berdialog (komunikatif), memiliki pemikiran terbuka, menghargai pendapat orang lain, namun dalam melakukan suatu tindakan sering kali kurang pertimbangan yang matang dan lebih banyak didorong oleh kesenangannya untuk melibatkan diri. Metode yang cocok adalah problem solving, brainstorming.
Kelompok Reflektor, di dalam melakukan suatu tindakan orang-orang tipe ini sangat berhati-hati dan penuh pertimbangan. Pertimbangan-pertimbangan baik-buruk dan untung-rugi, selalu diperhitungkan dengan cermat dalam memutuskan sesuatu. Orang-orang demikian tidak mudah dipengaruhi sehingga mereka cenderung bersifat konservatif.
Kelompok Teoris. Memiliki kecenderungan yang sangat kritis, suka menganalisis, selalu berfikir rasional dengan menggunakan penalarannya. Segala sesuatu sering dikembalikan kepada teori dan konsep-konsep atau hokum-hukum, mereka tidak menyukai pendapat atau penilaian yang sifatnya subjektif. Orang-orang demikian penuh dengan pertimbangan, sangat skeptis dan tidak menyukai hal-hal yang bersifat spekulatif.
Kelompok Pragmatis. Memiliki sifat-sofat praktis, tidak suka berbicara dan membahas sesuatu dengan teori-teori, konsep-konsep, dalil-dalil, dan sebagainya. Bagi mereka yang penting adalah aspek-aspek praktis, sesuatu yang nyata dan dapat dilaksanakan. Sesuatu hanya bermanfaat jika dapat dipraktekkan. Teori, konsep, dalil, memang penting tetapi semua tidak ada gunanya apabila tidak dapat dengan mudah dilaksanakan. Bagi mereka, sesuatu adalah abaik dan berguna jika dapat dipraktekkan dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.
3.                  Pandangan Habermas Terhadap Belajar
Habermas adalah tokoh humanis yang memiliki banyak pengaruh terhadap teori belajar humanistic. Menurutnya belajar baru akan terjadi jika ada interaksi antara individu dengan lingkungannya. Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan alam maupum lingkungan sosialnya. Habermas mebagi tipe belajar menjadi tiga bagian: Belajar Teknis, belajar bagaimana seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungan alamnya secara benar. Pengetahuan dan keterampilan apa yang dibutuhkan dan perlu dipelajari agar mereka dapat menguasai dan mengelola lingkungan alam sekitarnya dengan baik. Oleh sebab itu, ilmu-ilmu alam atau lainnnya sangat dipentingkan dalam belajar teknis.
Belajar Praktis, belajar bagaimana seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, yaitu, dengan orang-orang di sekelilingnya dengan baik. Kegiatan belajar ini lebih mengutamakan terjadinya interaksi yang harmonis antar sesame manusia. Bidang-bidang ilmu yang berhubungan dengan sosiologi, psikologim antropologi, dan semacamnya sangat diperlukan.
Belajar Emansipatoris, menekankan upaya agar seseorang mencapai suatu pemahaman dan kesadaran yang tinggi akan terjadinya perubahan atau transformasi budaya dalam lingkungan sosialnya. Ilmu-ilmu yang berhubungan antara budaya dan bahasa amat diperlukan. Pemahaman dan kesadaran terhadap transformasi cultural inilah yang oleh Habermas dianggap sebagai tahap belajar yang paling tinggi, sebab transformasi cultural adalah tujuan pendidikan yang paling tinggi.
4.                  Aplikasi Teori Belajar Humanistik dalam Kegiatan Pembelajaran
Semua komponen pendidikan termasuk di dalamnya tujuan pendidikan diarahkan pada terbentuknya manusia yang ideal, manusia yang dicita-citakan, yaitu manusia yang mampu mecapai aktualisasi diri. Teori belajar Humanistik akan sangat embantu para pendidik menentukan komponen-komponen pembelajaran seperti perumusan tujuan, penentuan materi, pemilihan strategi pembelajaran, serta pengembangan alat evaluasi ke arah pembentukan manusia yang dicitak-citakan tersebut.
Langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan teori humanistic yaitu:
a)      Menentukan tujan-tujuan pembelajaran
b)      Menentukan materi pembelajaran
c)      Mengidentifikasi kemampuan awal peserta didik
d)     Mengidentifikasi topic-topik pelajaran yang memungkinkan siswa secara aktif melibatkan diri dalam belajar
e)      Merancang fasilitas belajar seperti lingkungan dan media pembelajaran
f)       Membimbing siswa belajar secara aktif
g)      Membimbing siswa untuk memahami hakikat atau makna dari pengalaman belajarnya
h)      Membimbing siswa membuat konseptualisasi pengalaman belajarnya
i)        Membimbing siswa dalam mengaplikasikan konsep-konsep baru ke dalam situasi nyata
j)        Mengevaluasi proses dan hasil belajar.

                      II.                  PANDANGAN PROGESIF DALAM PEMBELAJARAN
Berdasarkan studi psikologi belajar yang baru beserta sosiologi masyarakat pendidikan menghendaki agar pengajaran memperhatikan minat, kebutuhan dan kesiapan anak didik untuk belajar, serta dimaksudkan untuk mencapa tujuan-tujuan social sekolah. Salah satu teori yang menekankan pentingnya kesiapan anak untuk belajar adalah teori belajar progresif yang salah satunya dikemukakan oleh John Dewey. Teori progresivisme merupakan perluasan dari pikiran-pikiran pragmatisme pendidikan. Terori ini memandang peserta didik sebagai makhluk social yang aktif dan dia percaya bahwa peserta didik ingin memahami lingkungan dimana ia berada, baik lingkungan kehidupan manusia secara personal maupun social.
Dewey menyebutkan tiga tingkatan kegiatan yang biasa dipergunakan di sekolah; Tingkatan pertama, untuk anak pada pendidikan prasekolah diperlukan latihan berkenaan dengan pengembangan koordinasi fisik. Tingkatan kedua, menggunakan bahan belajar yang bersumber dasri lingkungan. Tingkatan ketiga, anak menemukan ide-ide atau gagasan, mengujinya, dan menggunakan ide-ide atau gagasan tersebut untuk memecahkan masalah persoalan yang sama.
Pikiran-pikiran progresivisme berbeda dalam cara pandang terhadap pendidikan tradisional, dalam hal;
1)      Guru yang memiliki kendali dalam pembelajaran
2)      Hanya percaya bahwa buku sebagai satu-satunya sumber informasi
3)      Belajar yang pasif, dan cenderung tidak factual
4)      Memisahkan sekolah dengan masyarakat
5)      Menggunakan hukuman fisik dalam menegakkan kedisiplinan.
Terdapat lima prinsip pendidikan progresivf, yaitu;
1)      Berikan kebebasan kepada anak untuk berkembang secara alamiah
2)      Minat, dan pengalaman langsung merupkan rangsanagan yang paling baik untuk belajar
3)      Guru memiliki peran sebgai narasumber dan pebimbing kegiatan belajar
4)      Mengembangkan kerja sama antara sekolah dengan keluarga
5)      Sekolah progresif harus menjadi laboratorium reformasi dan pengujian pendidikan.
                   III.                  PANDANGAN SOSIOKULTURAL KONTRUKTIVIS DALAM PENDIDIKAN
Salah satu bagian dari revolusi pendidikan adalah teori pembelajaran kontruktivis. Esensi dari teori konstruktivis adalah ide bahwa siswa harus secara individu menemukan dan mentransfer informasi-informasi komples, apabila mereka harus menjadikan tiu menjadi miliknya sendiri. Teori konstruktivis memandang siswa secara terus menerus memerikasa informasi-informasi baru yang berlawanan dengan aturan-aturan lama dan merevisi aturan-aturan tersebut jika tidak sesuai lagi, karena penekanannya pda siswa (yang aktif), maka strategi konstruktivis sering disebut pengajaran yang terpusat pada siswa atau student-centered instruction.
Teori-teori baru dalam psikologi pendidikan dikelompok dalam teori pembelajaran konstruktivis (constructivist theories of learning). Teori konstruktivis ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide. Teori ini berkembang dari kerja Piaget, Vygotsky, teori-teori pemrosesan informasi, dan teori psikologi kognitif yang lain, seperti teori Bruner (Slavin dalam Nur, 2002: 8).
Menurut teori konstruktivis ini, satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjat anak tangga tersebut ( Nur, 2002 :8).
Terdapat empat prinsip kunci yang diturunkan dari konstruktivis modern. Pertama, penekananya pada hakikat social dari pembelajaran. Kedua, ide bahwa belajar paling baik apabila konsep itu berada dalam zona perkembangan mereka. Ketiga, adanya penekanan pada keduanya, yaitu hakikat social dari belajar dan zona perkembangan terdekat yang dinamakan dengan pemagangan kognitif. Keempat, pada proses pembelajran menekankan kemandirian atau belajar menggunakan media.
Menurut teori konstruktivis, pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyatan yang sedang dipelajari, melainkan sebagai konstruksi kognitif seseorang terhadap objek, pengalaman, maupun lingkungannya.
Von Galserfeld, mengemukakan beberapa kemampuan yang diperlukan dalam proses mengonstruksi pengetahuam yaitu;
1)      Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman,
2)      Kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan, dan
3)      Kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu daripada yang lainnya.
                   IV.                  PANDANGAN KI HAJAR DEWANTORO TERHADAP PENDIDIKAN
Salah satu pikiran Ki Hajar Dewantoro tentang pendidikan diwujudkan dalam benuk Taman Siswa. Taman Siswa merupakan badan perguruan yang sudah diselaraskan dengan kepentingan dan keperluan rakyat, di samping itu rakyat diberikan kesempatan untuk memberikan kintribusi terhadap lembaga tersebut. Lahirnya pendidikan Taman Siswa juga didilhami oleh model pendidikan barat yang tidak menyelesaikan persoalan peningkatan kualitas sumber daya manusia waktu itu. Menurutnya pendidikan barat memiliki ciri: perintah, hukuman, dan ketertiban. Model pendekatan seperti itu menurut Ki Hajar Dewantoro merupakan salah satu pemerkosaan terhadap kehidupan batin anak-anak. Dasar pendidikan yang digunakan di Taman Siswa adalah Momong, Among dan Ngemong.  Beberapa falsafah yang dikemukakan Ki Hajar Dewantoro berkenaan dengan pendidikan:
1)      Segala alat, usaha dan juga cara pendidikan harus sesuai denga  kodratnya
2)      Kodratnya itu dalam adapt-istiadat setiap masyarakat dengan berbagai kekhasan, yang kesemuanya itu bertujuan untuk mencapai hidup tertib dan damai
3)      Adapt istiadat sifatnya selalu berubah (dinamis)
4)      Untuk mengetahui karakteristik masyarakat saat ini diperlukan kajian mendalam tentang kehidupan masyarakat tersebut di masa lampau sehingga dapat dipe\rediksi kehidupan yang akan datang pada masyarakat tersebut.
5)      Perkembangan budaya masyarakat akan dipengaruhi oleh unsure-unsur lain, hal ini terjadi karena terjadinya pergaulan antar bangsa.
Pendidikan nasional menurut Taman Siswa adalah pendidikan yang beralaskan garis hidup dari biasanya dan ditujukan untuk kepentingan perikehidupan yang dapat mengangkat derajat negara dan rakyatnya, agar da[at bekerja bersama-sama dengan bangsa lain untuk kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia. Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantoro adalah tuntutan di dalam tumbuh dan berkembangnya anak-anak. Maksud pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar merka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Beberapa kata penting yang digaris bawahi Ki Hajar Dewantoro , bahwa pendidikan itu hanya tuntutan, di dalam tumbuh dan berkembangnya anak-anak. Ini mengandung arti bahwa tumbuh dan berkembangnya anak-anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak guru/pendidik.
Beberapa butir pokok pendidian yang dikemukakan Ki Hajar Dewantoro menurut Tilaar (2000:68-71):
1)      Bahwa kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari pendidikan, bahkan kebudayaan merupakan alas atau dasar pendidikan.
2)      Kebudayaan yang menjadi alas an pendidikan tersebut haruslah bersifat kebangsaan, artinya kebudayaan yang dimiliki atau yang akan dikembangkan oleh masyarakat Indonesia.
3)      Pendidikan mempunyai arah yaitu untuk mewujudkan keperluan perikehidupan.
4)      Arah tujuan pendidikan ialah untuk mengangkat derajat negara dan rakyat.
5)      Pendidikan yang visioner.
            Kebudayaan merupakan dasar praksis pendidikan, maka bukan saja seluruh proses pendidikan berjiwakan kebudayaan nasional, tetapi juga seluruh unsure kebidayaan harus diperkenalkan dalam proses pendidikan. Hal ini berarti kesenian, budi pekerti, syarat-syarat agama (nilai-nilai agama), sastra, juga pendidikan jasmani. Program pendidkan yang kemprehendif tersebut menuntut suatu suasana pendidikan berbudaya yang ahanya dapat diwujudkan secara efektif dalam system pondok.
Para guru professional masa depan dapat menuntut kesatuan di dalam kepribadiannya bukan hanya menguasai ilmu pengetahuan dan bagaimana mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik, tetapi juga para guru tersebut merupakan resi modern seorang intelektual, professional, dan pemimpin yang perlu dan dapat digugu.

Sumber Referensi :

Hatiamh, Ihat, dkk. 2008. Pembelajaran Berwawasan Kemasyarakatan. Jakarta : Universitas Terbuka.
Wahyudin, Dinn,dkk. 2008. Pengantar Pendidikan. Jakarta : Universitas Terbuka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar